I. KONSEP DASAR PENYAKIT
Asma adalah suatu
penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakhea dan bronkhus terhadap
berbagai rangsangan dengan adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan(
Muttaqin,2008)
Asma adalah suatu
gangguan pada saluran bronchial yang mempunyai cirri bronkospasme periodic
(kontraksi spasme pada saluran nafas) terutama pada percabangan
trakeaobronkial,endokrin,infeksi,otonomik dan psikologi(Somantri,2009)
Asma adalah proses
peradangan di saluran nafas yang mengakibatkan peningkatan responsive dari
saluran nafas terhadap berbagai stimulasi yang dapat menyebabkan penyempitan
saluran nafas yang menyeluruh dengan gejala khas sesak nafas yang
reversible(Muttaqin,2008)
Klasifikasi
Asma
a. Asma Bronkiale Tipe Atopik (Ekstrinsik)
Merupakan suatu bentuk asma dengan allergen seperti bulu binatang,debu,ketombe, tepung sari, makanan dan lain-lain. Alergen terbanyak adalah airborne dan musiman(seasonal). Klien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit keluarga dan riwayat pengobatan eksim atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asma. Bentuk asma ini biasanya dimulai sejak kanak-kanak.
Merupakan suatu bentuk asma dengan allergen seperti bulu binatang,debu,ketombe, tepung sari, makanan dan lain-lain. Alergen terbanyak adalah airborne dan musiman(seasonal). Klien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit keluarga dan riwayat pengobatan eksim atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asma. Bentuk asma ini biasanya dimulai sejak kanak-kanak.
b. Idiopatik atau Non alergik / Intrinsik
Tidak berhubungan
secara langsung dengan allergen spesifik. Factor-faktor seperti common cold,
infeksi saluran nafas atas, aktivitas, emosi/stress, dan populasi lingkungan
akan mencetuskan seranagn. Beberapa agen farmakologi, seperti agonis
β-adrenergik dan bahan sulfat (penyedap makanan) juga dapat menjadi
factor penyebab. Serangan dari asma idiopatik atau nonalergik menjadi
lebih berat dan sering kali dengan berjalannya waktu dapat berkembangn menjadi
bronchitis an emfisema. Pada beberapa kasus dapat berkembang menjadi asma
campuran. Bentuk asma ini biasanya dimulai ketika dewasa(>35 tahun).
c. Asma Campuran (Mixed Asma)
Merupakan bentuk asma
yang paling sering. Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua jenis asma alergi
dan idiopatik atau nonalergi.(Somantri,2008)
B.Etiologi
Ada
beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asma bronkhial.
timbulnya serangan asma bronkhial.
1. Faktor
predisposisi
a. Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun
belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan
penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit
alergi.Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit
asthma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus.Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
2.
Faktor presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang
masuk melalui saluran pernapasan.
Seperti : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut.
Seperti : makanan dan obat-obatan.
Seperti : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut.
Seperti : makanan dan obat-obatan.
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit.
seperti : perhiasan, logam dan jam tangan.
·
Perubahan cuaca.
Cuaca
lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.Atmosfir yang
mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang
serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim
bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
· Stress.
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
·
Lingkungan kerja.
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan
asma.Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja.Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.Gejala
ini membaik pada waktu libur atau cuti.
·
Olah raga/ aktifitas
jasmani yang berat.
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika
melakukan aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma.Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas tersebut.
C.Patofisiologi
Suatu serangan asthma timbul karena
seorang yang atopi terpapar dengan alergen yang ada dalam lingkungan
sehari-hari dan membentuk imunoglobulin E (IgE). Faktor atopi itu diturunkan.
Alergen yang masuk kedalam tubuh melalui saluran nafas, kulit, dan lain-lain
akan ditangkap makrofag yang bekerja sebagai antigen presenting cell (APC).
Setelah alergen diproses dalan sel APC, alergen tersebut dipresentasikan ke sel
Th. Sel Th memberikan signal kepada sel B dengan dilepaskanya interleukin 2
(IL-2) untuk berpoliferasi menjadi sel plasma dan membentuk imunoglobulin E
(IgE).
IgE yang terbentuk akan diikat oleh
mastosit yang ada dalam jaringan dan basofil yang ada dalan sirkulasi. Bila
proses ini terjadai pada seseorang, maka orang itu sudah disensitisasi atau
baru menjadi rentan. Bila orang yang sudah rentan itu terpapar kedua kali atau
lebih dengan alergen yang sama, alergen tersebut akan diikat oleh Ig E yang
sudah ada dalam permukaan mastoit dan basofil. Ikatan ini akan menimbulkan
influk Ca++ kedalam sel dan perubahan didalam sel yang menurunkan
kadar cAMP.
Penurunan pada kadar cAMP menimbulkan degranulasi sel.
Degranulasi sel ini akan menyebabkan dilepaskanya mediator-mediator kimia yang
meliputi : histamin, slow releasing suptance of anaphylaksis (SRS-A),
eosinophilic chomotetik faktor of anaphylacsis (ECF-A) dan lain-lain. Hal ini
akan menyebabakan timbulnya tiga reaksi utama yaitu : kontraksi otot-otot polos
baik saluran nafas yang besar ataupun yang kecil yang akan menimbulkan bronkospasme,
peningkatan permeabilitas kapiler yang berperan dalam terjadinya edema
mukosa yang menambah semakin menyempitnya saluran nafas , peningkatansekresi
kelenjar mukosa dan peningkatan produksi mukus. Tiga reaksi tersebut
menimbulkan gangguan ventilasi, distribusi ventilasi yang tidak merata dengan
sirkulasi darah paru dan gangguan difusi gas ditingkat alveoli, akibatnya akan
terjadi hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis pada tahap yang sangat lanjut(Tambayong,2000)
E.
Manifestasi Klinik
Gejala
asma terdiri atas, yaitu takipnea, dispnea, batuk, dan mengi. Gejala yang di
sebutkan terakhir sering di anggap sebagai gejala yang harus ada, dan data
lainnya seperti terlihat pada pemeriksaan fisik(Irman,2009)
Karena
asma merupakan suatau penyakit yang di tandai dengan penyempitan jalan nafas
yang
reversible
, maka gambaran klinis dari asma memperlihatkan variabilitasyang besar baik di
antara penderita asma dan secara individual di sepanjang waktu . masalah
utamanya adalah kepekaan selaput lender bronchial dan hiperaktif otot bronchial
. rangkaian pengaruh dari edema selaput lender bronchial, peningkatan produksi
mucus (dahak).menimbulkan penyempitan jalan nafas dan menyebabkan empat gejala
asma yang utama yakni : kelelahan, batuk, mengi , pernafasan pendek , dan
rasa sesak di dada(Antony,1997)
F. Pemeriksaan diagnostik
Pengukuran Fungsi Paru ( Spirometri)
Pemeriksaan
yang dilakukan untuk mengukur secara objektif faal paru. Bertujuan mengukur
volume paru secara static dan dinamik serta untuk mengetahui gangguan pada faal
paru.
Tes
Provokasi Bronkhus
Tes
provokasi bronchus, untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronchus( histamine,
metakolin, allergen, kegiatan jasmani, hiperventilasi dengan udara dingin dan
inhalasi dengan aqua destilata)
Pemeriksaan Kulit
Untuk menunjukkan adanya antibody IgE
hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.
Pemeriksaan Laboratoium
1. Analisa Gas Darah (AGD/ astrup)
Hanya dilakukan pada serangan asma
berat karena terdapat hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis respiratorik. Pada
pasien asma terdapat hasil abnormal sebagai berikut:
° Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat
pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
° Kadang-kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT
dan LDH.
° Hiponatremia dan kadar leukosit di atas 15.000/mm3
dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.
° Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi
peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari
serangan.
2. Sputum
Pada pemeriksaan
sputum ditemukan sebagai berikut:
° Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan
degranulasi dari kristal eosinopil.
° Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel
cetakan) dari cabang bronkus.
° Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
° Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum,
umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus
plug.
3. Sel Eosinofil
Sel eosinofil pada
klien dengan status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm³ baik asma intrisik
ataupun ekstrisik, sedangkan hitung sel eosinofil normal antara
100-200/mm³.
4. Pemeriksaan darah rutin dan kimia
Jumlah sel leukosit
yang lebih dari 15.000/mm³ terjadi karena adanya infeksi. SGOT dan SPGT
meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia atau hiperkapnea.
Pemeriksaan Radiologi
Hasil pemeriksaan
radiologi pada klien dengan asma brokhial biasanya normal, tetapi prosedur ini
harus tetap dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya proses patologi di
paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks, pneumomediastinum, dan
atelektasis. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah
sebagai berikut:
° Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di
hilus akan bertambah.
° Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran
radiolusen akan semakin bertambah.
° Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran
infiltrate pada paru
° Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
° Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan
pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada
paru-paru(Medicafarma,2008)
G.Komplikasi
1) Pneumothoraks
adalah suatu keadaan terdapatnya
udaraatau gas di dalam rongga pleura, yang terjadi secara spontan atau sebagai
akibat trauma.
2) Emfisema
adalah suatu keadaan abnormal pada
anatomi paru dengan adanya kondisi klinis berupa melebarnya saluran udara
bagian distal bronkhiolus terminal yang disertai dengan kerusakn dinding
alveoli.
3) Atelektasis
adalah suatu keadaan yang berhubungan
dengan adanya proses penyakit parenkim yang disebabkan oleh obstruksi bronkhus.
4) Gagal nafas
adalah ketika pertukaran gas antara
oksigen dengan karbon dioksida di paru tidak dapat mengimbangi laju konsumsi
oksigen dan produksi karbon dioksida pada sel tubuh. Kondisi ini mengakibatkan
tekanan oksigen arterial kurang dari 50mmHg (hipoksemia) dan tekanan karbon
dioksida arterial meningkat lebih dari 45mmHg(hiperkapnea)
5) Brokitis
adalah peradangan
dari satu atau lebih bronkus yang dapat disebabkan oleh karena terkena
dingin,penghirupan bahan-bahan iritan dan oleh karena infeksi akut.
6) Status
Asmatikus
adalah bentuk hebat
dari asma akut dimana obstruksi jalan nafas tahan terhadap terapi obat
konvensional dan berakhir lebih dari 24 jam.
7)
Disritmia
adalah
gangguan pada frekuensi jantung regular atau irama yang disebabakan oleh
perubahan pada konduksi elektrik atau otomatisasi(Rab,1996)
H. Penatalaksanaan Medis dan
Keperawatan
Pengobatan nonfarmakologi
a) Penyuluhan
Penyuluhan ini ditunjukan
untuk peningkatan pengetahuan klien tentang penyakit asma sehingga klien secara
sadar menghindari faktor-faktor pencetus, menggunakan obat secara benar dan
berkonsultasi pada tim kesehatan.
b) Menghindari factor pencetus
Klien perlu dibantu
mengidentifikasi pencetus seranagn asma yang ada pada lingkungannya, diajarkan
cara menghindari dan mengurangi factor pencetus, termasuk intake cairan yang
cukup bagi klien.
c) Fisioterapi
Dapat digunakan untuk
mempermudah pengeluaran mucus. Ini dapat dilakukan dengan postural drainase,
perkusi dan fibrasi dada.
Pengobatan Farmakologi
a) Agonis beta
Metaproterenol(alupent,metrapel).
Bentuknya aerosol, bekerja sangat cepat, diberikan sebanyak 3-4x semprot, dan
jarak antara semprotan pertama dan kedua adalah 10 menit
b) Metilxantin
Dosis dewasa
diberikan 125-200 mg 4x sehari. Golongan metilxantin adalh aminofilin dan
teofilin. Obat ini diberikan bila golongan beta agonis tidak memberika hasil
yang memuaskan.
c) Kortikosteroid
Jika agonis beta dan
metilxantin tidak memberikan respons yang baik, harus diberikan kortikosteroid.
Steroid dalam bentuk aerosol dengan dosis 4x semprot tiap hari.
Pemberian steroid
dalam jangka yang lama mempunyai efek samping, maka klien yang mendapat steroid
jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d) Kromoloin
dan Iprutropioum bromide (atroven)
Kromolin merupakan
obat pencegah asma khususnya untuk anak-anak. Dosis Iprutropioum bromide
diberikan 1-2 kapsul 4x sehari(Kee dan Hayes,1994)
e) Bronkodilator
Tidak digunakan
bronkodilator oral, tetapi dipakai secra inhalsi atau parenteral. Jika
sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik, maka sebaiknya
diberikan Aminophilin secara parenteral, sebab makaisme yang berlain, demikian
pula sebaliknya, bila sebelumnya telah digunakan obat golongan teofilin oral,
maka sebainya diberikan obat golongan simpatomimetik.
Obat-obat brokodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap
adrenoreseptor ( Orsiprendlin, Salbutamol, Terbutalin, Ispenturin, Fenoterol)
mempunyai sifat lebih efektif dan masa kerja lebih lama serta efek samping
kecil dibandingkan dengan bentuk non- selektif (Adrenalin, Efedrin,
Isoprendlin).
·
Obat-obat bronkodilator serta aerosol
bekerja lebih cepat dan efek samping sistemiknya lebih kecil. Baik digunakan
untuk sesak nafas berat pada anak-anak dan dewaa. Mula-mula diberikan dua
sedotan dari Metered Aerosol Defire ( Afulpen Metered Aerosol). Jika
menunjukkan perbaikan dapat diulang setiap empat jam , jika tidak ada perbaikan
dalam 10-15 menit setelah pengobatan, maka berikan Aminophilin intervena.
·
Obat-obat Brokodilator simpatomimetik
memberikan efek samping takikardi, penggunaan parenteral pada orang tua harus
hati-hati, berbahaya pada penyakit hipertensi, kardiovaskular, dan
serebrovaskular. Pada dewasa dicoba dengan 0,3 ml larutan epinefrin 1:1000
secara subkutan. Pada anak-anak 0,01 mg/KgBB subkutan (1 mg per mil) dapat
diulang setiap 30 menit untuk 2-3 kali sesuai kebutuhan.
· Pemberian AMinophilin secrar intravena
dengan dosis awal 5-6mg/KgBB dewasa/anak-anak, disuntikan perlahan dalam 5-10
menit, untuk dosis penunjang dapat diberikan sebanayk 0,9mg/KgBB/jam secara
intravena. Efek sampingnya tekanan darah menurun bila tidak dilakukan secara
perlahan.(Muttaqin,2008)
II. Konsep Keperawatan
Pengkajian Keperawatan
Anamnesis
Pengkajian mengenai
nama, umur dan jenis kelamin perlu dilakukan pada klien dengan asma. Serangan
asma pada usia dini memberikan implikasi bahwa sangat mungkin terdapat status
atopic. Serangan pada usia dewasa dimungkinkan adanya factor non-atopik. Tempat
tinggal yang menggambarkan kondisi tempat klien berada. Berdasarkan tempat
alamat tersebut, dapat diketahui pula factor yang memungkinkan menjadi pencetus
serangan asma. Status perkawinan dan gangguan emosional yang timbul dalam
keluarga atau lingkungan merupakan factor pencetus serangan asma. Pekerjaan
serta suku bangsa juga dapat dikaji untuk mengetahui adanya pemaparan bahan
allergen. Hal ini yang perlu dikaji dari identitas klien ini adalah tanggal
masuk rumah sakit (MRS), nomor rekam medis, asuransi kesehatan dan diagnosis
medis.
Keluhan utama meliputi sesak nafas, bernafas terasa berat pada dada, adanya
keluhan sulit untuk bernafas.
Riwayat Penyakit Saat Ini
Klien dengan serangan
asma datang mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak nafas yang hebat
dan mendadak, kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain seperti wheezing,
pengugunaan otot bantu pernafasan, kelelahan,gangguan kesadaran, sianosis dan
perubahan tekanan darah.
Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga stadium. Stadium
pertama ditandai dengan batul-batuk berkala dan kering. Batuk ini terjadi
karena iritasi mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini terjadi edema
dan pembengkakan bronkus. Stadium kedua ditandai dengan batuk disertai mukus
yang jernih dan berbusa. Klien merasa sesak nafas , berusah untuk nafas dalam,
ekspirasi memanjang diikuti bunyi mengi(wheezing). Klien lebih suka duduk
dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur, tampak pucat, gelisah, dan
warna kulit mulai membiru. Stadium ketiga ditandai dengan hampir tidak
terdengarnya suara nafas karean aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernafasan
menjadi dangkal dan tidak teratur, irama nafas meningkat karena asfiksia.
Perawat perlu mengkaji obat-obatan yang bias diminum klien dan memeriksa
kemvali setiap jenis obat apakah masih relevan untuk digunakan kembali.
Riwayat Penyakit
Dahulu
Penyakit yang pernah
diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya ineksi saluran pernafasan atas,
sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, dan polip hidung. Riwayat serangan asma,
frekuensi, waktu dan alergen-alergen yang dicurigai sebagai pencetus
serangan, serta riwayat pengobatan yang dilakukan untuk meringkan gejala asma.
Riwayat Penyakit
Keluarga
Pada klien dengan
serangan asma perlu dikaji tentang riwayat penyakit asma atau penyakit alergi
yang lain pad anggota keluarga karena hipersensitivitas pada penyakit asma ini
lebih ditentukan oleh factor genetic dan lingkungan.
Pengkajian
Psiko-Sosio-Kultural
Kecemasan dan koping
yang tidak efektif sering didapatakan pada klien dengan asma bronchial. Status
ekonomi berdampak pada asuransi kesehatan dan perubahan mekanisme peran dalam
keluarga. Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu pencetus bagi
serangan asma baik gangguan itu berasal dari rumah tangga, lingkungan sekitar,
sampai lingkungan kerja. Seorang dengan beban hidup yang berat lebih
berpotensial mengalami serangan asma. Berada dalam keadaan yatim piatu,
mengalami ketidak harmonisan hubungan dengan orang lain, sampai menghalangi
ketakutan tidak dapat menjalani peranan seperti semula.
Pola Persepsi dan
Tata Laksana Hidup Sehat
Gejala asma dapat
membatasi manusia untuk berperilaku hidup normal sehingga klien dengan asma
harus mengubah gaya hidunya sesuai kondisi yang tidak akan menimbulkan serangan
asma.
Pola Hubungan dan
Peran
Gejala asma sangat
membatasi klien untuk menjalani kehidupan secara normal. Klien perlu
menyesuaikan diri kondisinya dengan hubungan dan peran klien, baik di
lingkungan rumah tangga, masyarakat, ataupun lingkungan kerja serta perubahan
peran yang terjadi setealh klien mengalami serangan asma.
Pola Persepsi dan
konsep Diri
Perlu dikaji tentang
persepsi klien terhadap penyakitnya. Persepsi yang salah dapat menhambat
respons kooperatif pada diri klien. Cara memandang diri salah juga akan menjadi
stressor dalm kehidupan klien. Semakin banyak stressor yang ada pada kehidupan
klien dengan asma dapat meningkatkan kemungkinan serangan asma berulang.
Pola Penanggulangan
Stress
Stress dan ketegangan
emosional merupakan factor intrinsic pencetus serangan asma. Oleh karena itu
perlu dikaji penyebab terjadinya stress. Frekuensi dan pengaruh stress terhadap
kehidupan klien serat cara penangulangan terhadap stressor.
Pola Sensorik dan
Kognitif
Kelainan pada pola
persepsi dan kognitif akan memengaruhi konsep diri klien dan akhirnya memengaruhi
jumlah stressor yang dialami klien sehingga kemungkaian terjadi seranagn asma
berulang pun akan semakin tinggi.
Pola Tata Nilai dan
Kepercayaan
Kedekatan klien pada
sesuatu yang diyakininya didunia dipercaya dapat meningkatakan kekuatan jiwa
klien. Keyakinan klien terhadap Tuhan dan mendekati diri kepada –Nya merupakan
metode penanggulangan sters yang konstruktif.
Pemeriksaan fisik
Keadaan
umum
Perawat juga perlu
mengkaji tentang kesadarn klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan suara
bicara, denyut nadi, frekuensi pernafasan yang meningkat, penggunaan otot-otot
bantu pernafasan, sianosis, batuk dengan lendir lengket, dan posisi istirahat
klien.
B1
(Breathing)
Inspeksi
Pada klien asma
terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan, serta penggunaan
otot bantu pernafasan. Inspeksi dada terutama untuk melihat postur bentuk dan
kesimetrisan, adanya peningkatan diameter anteroposterior, retraksi otot-otot
interkostalis, sifat dan irama pernafasan dan frekuensi pernafsan.
Palpasi
Pada palpasi biasanya
kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus normal.
Perkusi
Pada perkusi
didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan
rendah.
Auskultasi
Terdapat suara
vesikuler yang meningkatkan disertai dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau
lebih dari 3 kali inspirasi, dengan bunyi nafas tambahan utama wheezing pada
akhir ekspirasi.
B2 (Blood)
Perawat perlu
memonotori dampak asma pada status kardiovaskuler meliputi keadaan hemodinamik
seperti nadi,tekanan darah, dan CRT.
B3(Brain)
Pada saat
inspeksi,tingkat kesadarn perlu dikaji. Di samping itu, diperlukan pemeriksaan
GCS untuk menentukan tingkat kesadaran klien apakah compos mentis,somnolen,
atau koma.
B4(Bladder)
Pengukuran volume
output urine perlu dilakukan karena berkaitan dengan intake cairan. Oleh karena
itu, perawat perlu memonotor ada tidaknya oligouria, karena hal tersebut
merupakan tanda awal dari syok.
B5(Bowel)
Dikaji adanya edema
ekstremitas, tremor dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas karena dapat
merangsang serangan asma. Pengkaji tentang status nutrisi klien meliputi
jumlah, frekuensi dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. Pada
klien dengan sesak nafas,sangat potensial terjadi kekurangan pemenuhan
kebutuhan nutrisi,hal ini karena terjadi dipnea saat makan, laju metabolisme,
serta kecemasan yang dialami klien.
B6(Bone)
Dikaji adanya edema
ekstremitas,tremor dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas karena dapat
merangsang serangan asma. Pada integumen perlu dikaji adanya permukaan yang
kasar, kering, kelainan pigmentasi, turgor kulit,kelembapan,mengelupas atau
bersisik, pendarahan, pruritus,eksim,dan adanya bekas atau tanda urtikaria atau
dermatitis. Pada rambut, dikaji warna rambut, kelembapan, dan kusam. Perlu
dikaji pula tentang bagaimana tidur dan istirahat klien yang meliputi berapa
lama(Muttaqin,2008)
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa 1:
·
Bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan bronkhokonstriksi, bronkhospasme ditandai dengan
sekresi mucus yang kental, adanya wheezing,RR meningkat (lebih dari 22x/mnt),
HR meningkat (lebih dari 100x/mnt), napas dangkal dan cepat, menggunakan otot
bantu napas.
Tujuan :
· Bersihan jalan napas kembali efektif
setelah di lakukan tindakan keperawatan selama ….x 24 jam
Kriteria
Hasil:
§ Klien dapat mendemonstrasikan batuk efektif
§ Tidak ada suara nafas tambahan dan wheezing
§ Pernapasan klien normal ( 16 -20 x /menit) tanpa adanya
pengguanaan otot bantu napas.
§ Frekuensi nadi 60-120 x /menit.
Intervensi:
· Mandiri :
1.)
Posisikan pasien
untuk mengoptimalkan pernapasan ( posisi semi fowler)
Rasional
: posisi semi fowler dapat memberikan kesempatan pada proses ekspirasi paru.
2.)
Kaji Warna,
kekentalan dan jumlah sputum
Rasional
: karekteristik sputum dapat menunjukkan barat ringannya obstruksi.
3.)
Atur posisi
semifowler
Rasional
: posisi semi fowler meningkatkan ekspansi paru.
4.)
Ajarkan cara batuk
efektif dan terkontrol
Rasional
: batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran secret
yang melekat dijalan napas.
5.)
Bantu klien latihan
napas dalam.
Rasional
: ventilasi maksimal membuka lumen jalan nafas dan meningkatkan gerakan secret
kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan.
6.)
Pertahankan intake
cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan
Rasional
: Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan secret dan mengefektifkan
pembersihan jalan nafas.
7.)
Lakukan fisioterapi
dada dengan teknik postural dranase, perkusi,fibrasi dada.
Rasional
: fisioterapi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan secret.
· Kolaborasi :
1.)
Kolaborasi pemberian
obat bronkodilator
Rasional
: Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area broncus yang
mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
2.)
Kolaborasi dengan
dokter pemberian obat agen mukolitik dan ekspektoran
Rasional
: agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan secret paru untuk
memudahkan pembersihan. Agen ekspektoran akan memudahkan secret lepas dari
perlengketan jalan napas .
3.)
Kolaborasi dengan
dokter pemberian obat kortikostiroid.
Rasional
: kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan
menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkus.
Diagnosa 2
· Pola napas tidak efektif
berhubungan dengan penurunan energy/kelelahan di tandai dengan sesak napas,
takipnea, orthopnea, tarikan interkostal/penggunaan otot napas tambahan untuk
bernapas, napas pendek, napas pursed-lip.
Tujuan:
· Pola nafas kembali efektif setelah di
lakukan tindakan keperawatan selama … x 24
Kriteri
Hasil :
· pernapasan klien normal (16-20x/menit)
tanpa adanya penggunaan otot bantu napas.
· Tidak terdapat suara nafas tambahan
atau wheezing.
· Status tanda vital dalam batas normal.
-
nadi 60 - 100x /menit
-
RR 16-20 x/mnt
· Klien dapat mendemonstrasikan teknik
distraksi pernapasan.
Intervensi:
Mandiri
:
1.)
Posisikan pasien
untuk mengoptimalkan pernapasan ( posisi semi fowler)
Rasional
: posisi semi fowler dapat memberikan kesempatan pada proses ekspirasi paru.
2.)
Pantau kecepatan,
irama, kedalaman pernapasan dan usaha respirasi.
Rasional
: Memantau pola pernafasan harus dilakukan terutama pada klien
dengan gangguan pernafasan .
3.)
Perhatikan pergerakan
dada , amati kesimetrisan, penggunaan otot-otot bantu napas, serta retraksi
otot supraklavikular dan interkostal.
Rasional
: melakukan pemeriksaan fisik pada paru dapat mengetahui kelainan yang terjadi
pada klien .
4.)
Auskultasi bunyi napas,
perhatikan area penurunan / tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi napas
tambahan.
Rasional
: Adanya bunyi napas tambahan mengidentifikasikan adanya gangguan
pada pernapasan.
5.)
Pantau peningkatan
kegelisahan, ansietas, dan tersengal-sengal.
Rasional
: Ansietas dapat memicu pola pernapasan seseorang.
6.)
Anjurkan napas dalam
melalui abdomen selama periode distress pernapasan
Rasional
: Teknik distraksi dapat merileksasikan otot –otot pernapasan.
Kolaborasi
:
1)
Kolaborasi dengan
dokter pemberian bronkodilator.
Rasional
: pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkus yang
mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
Diagnosa 3
· Pertukaran gas berhubungan dengan
kelelahan otot respiratory ditandai dengan dispnea, peningkatanPCO2,
peningkatan penggunaan otot bantu napas
Tujuan
:
· Pertukaran gas kembali efektif setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama…x24 jam.
Kriteria
Hasil :
· Klien dapat mendemonstrasikan teknik
relaksasi dalam pernapasan.
· Frekuensi napas 16-20 x /menit dan
tidak sesak napas
· Frekuensi nadi 60-120 x /menit.
· Kulit tidak pucat ( PaO2 kurang dari 50
mm Hg.PaCO2 lebih dari 50 mm Hg dan PH 7,35-7,40 )
· Saturasi oksigen dalam darah
lebih dari 90%
Intervensi:
1.)
Pantau status
pernapasan tiap 4 jam,hasil GDA,intake dan output.
Rasional
: untuk mengindenfikasi indikasi ke arah kemajuan atau penyimpangan dari hasil
klien.
2.)
Tempatkan klien
pada posisi semi fowler
Rasional:
posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih baik.
3.)
Berikan
pengobatan yang telah ditentukan serta amati bila ada tanda-tanda
toksisitas.
Rasional
: pengobatan untuk mengembalikan kondisi bronchus seperti kondisi sebelumnya.
4.)
Tingkatkan aktifitas
secara bertahap, jelaskan bahwa fungsi pernapasan akan meningkat dengan
aktivitas.
Rasional
: Mengoptimalkan fungsi paru sesuai dengan kemampuan aktivitas individu.
Kolaborasi:
1.)
Berikan terapi
intravem sesuai anjuran (kolaborasi dengan dokter)
Rasional
: Untuk memungkinkan dehidrasi yang cepat dan tepat mengikuti keadaan
vaskuler untuk pemberian obat-obat darurat.
2.) Berikan oksigen melalui kanula nasal 4
L/menit selanjutnya sesuaikan dengan hasil PaO2.
Rasional
: pemberian oksigen mengurangi beban otot-otot pernafasan.
Diagnosa 4:
· Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen ditandai dengan
kelelahan, dispnea, sianosis
Tujuan
:
· Dalam waktu …x24 jam setelah diberikan
intervensi klien dapat melakukan aktivitas sesuai kebutuhan .
Kriteria
hasil :
· Klien dapat beraktivitas sesuai
kebutuhannya
· Pernapasan klien normal (16-20 x/menit)
dan tidak sesak napas
· Frekuensi nadi 60-120 x /menit.
· Klien dapat mendemonstrasikan teknik
distraksi yang diajarkan
Intervensi:
a.)
Jelaskan aktivitas
dan factor ysng dapat meningkatkan kebutuhan oksigen
Rasional
: merokok ,suhu ekstrem dan stress menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dan
meningkatkan beban jantung .
b.)
Ajarkan progam
relaksasi
Rasional
: mempertahankan, memperbaiki pola nafas teratur .
c.)
Buat jadwal aktivitas
harian ,tingkatkan secara bertahap.
Rasional
: mepertahankan pernapasan lambat dengan tetap memperhatikan latihan fisik
memungkinkan peningkatan kemampuan otot bantu pernapasan
d.)
Ajarkan teknik napas
efektif.
Rasional
: meningkatkan oksigenasi tanpa mengorbankan banyak energi .
e.)
Pertahan kan terapi
oksigen tambahan .
Rasional
: mempertahankan, memperbaiki dan meningkatkan konsentrasi oksigen darah.
f.)
Kaji respon abnormal
setelah aktivitas.
Rasional
: respon abnormal meliputi nadi , tekanan darah , dan pernafasan yang meningkat
.
g.)
Beri waktu istirahat
yang cukup.
Rasional :
meningkatkan daya tahan klien, mencegah kelelahan .
Kolaborasi :
a) Kolaborasikan dengan fisioterapi untuk
melakukan latihan /aktivitas harian sesuai jadwal.
Rasional:
latihan/aktivitas harian memungkinkan kemampuan otot bantu nafas
(Doengoes,2000)
Daftar
Pustaka
Somantri,
Irman.2009. Asuhan Keperwatan Pada Klien Gangguan Sistem Pernafasan Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika.
Rab,Tabran.1996.Ilmu
Penyakit Paru.Jakarta:Hipokrates.
Muttaqin,
Arif.2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Pernafasan.
Jakarta: Salemba Medika.
Crocket,Antony,1997. Penanganan Asma Dalam Keperawatan
Primer. Jakrta:Hipokrates.
Doengoes, Marilyn.dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:
Buku kedokteran EGC.
http://id.wikipedia.org/wiki/Medicafarma-Asma Brokiale.2008.
Tambayong,Jan.2000.Patofisiologi untuk Keperawatan.Jakarta:EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar